Di kelas 3 SMP, dia melihat sang ayah menderita sakit jantung, ayahnya
Marga Singgih, memberikannya satu titik balik. Ia pun mulai menjadi
pembawa acara guna mencari uang jajan sendiri. Yasa tak mau membebani
kedua orang tuanya. Usaha pertamanya adalah melamar sebagai Master of
Ceremony, bekerja sebagai pembawa acara di sebuah pusat perbelanjaan.
Dalam seminggu ia menerima uang Rp.350.000 setiap kali tampil sehari.
Sehari setidaknya ada 3 kali tampil untuk kesempatan berbeda bermodal
nekat. Jujur saja Yasa tak pandai bercuap- cuap menjadi pembawa acara.
Apalagi saat itu dirinya masih berbaju putih- biru. Tak cuma acara biasa
tapi juga acara dewasa dibawakannya. Bukan usaha baik untuk anak di
usia 15 tahun kala itu. Tak jarang Yasa harus membawakan acara sebuah
merek rokok yang diperuntukan kalangan 18 tahun keatas. Tetapi itu semua
ada hikmahnya selain melatih mental.
Itu juga mendorongnya memilih memulai bisnis sendiri. "Karena terpaksa, ya, jadi bisa dan malah terbiasa," pungkasnya.
Selepas masuk SMA Regina Pacis, Jakarta, barulah dimulai usahanya
sendiri untuk mencari uang. Selepas kontrak sebagai pembawa acara
selesai, ia mulai berbisnis lampu hias warna- warni selama enam bulan.
Sebuah buku berjudul "the Power of Kepepet" karya Jaya Setiabudi,
membuatnya terbakar berbisnis mandiri. Kala itu Yasa langsung
menghubungi temanya yang memiliki usahan konveksi (milik ayahnya).
"Halo Von, mau bikin baju sama bokap loe... Belom ada Von, besok gw DP
dulu 500 ribu, kalo dalem 3 minggu belom ada design, Dp nya buat loe."
begitu kiranya reka adegan diperagakannya.
Singkat cerita ia menemui tiga orang yang ahli aplikasi desain. Dia yang
tidak bisa mendesain, mulai berguru selama 7 hari. Hasilnya, ia masih
tidak bisa sama sekali hingga hari terakhir desainnya harus dikirim. ia
benar terdesak atau kepepet dan memutuskan menggunakan Microsoft Word
untuk mendesain. Akhirnya ia pun mengirimkan sebuah desain yaitu gambar
Ir. Soekarno. "Orang Indonesia ada ratusan juta, masa 24 orang aja gak
ada yang beli," ucapnya tertawa.
Setelah dua minggu kaosnya jadi, dia segera menjual kasonya dan hanya
laku terjual 2 buah saja. Dari dua kaonya, satu kaosnya dibeli oleh
ibunya sendiri karena kasihan. Dan lucunya, dia merasa semuanya menarik
dan perasaan kepepet itu semakin jadi. Yasa lalu berlari ke Tanah Abang,
membeli selusin pakaian kaos hingga menghabiskan 4 juta. Dia harus
bersusah payah membawa kaos- kaos tersebut, melewati ribuan penjual dan
pembeli yang tumpah jadi satu.
Di rumah, dia benar- benar terkejut atas keputusanya membeli banyak
sekali barang. Ia harus memutar otak lagi untuk menjualnya atau merugi
besar- besaran. Beberapa kali menawarkan ditambah rasa percaya diri, ia
mulai menjual produknya tanpa ada marketing khusus atau brand
tersenidiri. Lama kelamaan, Yasa berhasil menutup modalnya dan mulai
mencari cara menjual produknya sendiri. Dua kali bisnis kaos yang
bermodal kepepet, Yasa mulai merencanakan bisnisnya secara matang-
matang.
Dia membuka bisnis minuman yang diberi nama "Ini Teh Kopi", sebuah usaha
kedai menjual minuman kopi duren. Usahanya tersebut bisa dibilang
sukses besar ditambah dengan namanya yang dikenal. Dari bisnis kaos, ia
pernah diwawancarai oleh majalah entrepreneur besar di Indonesia. Bisnis
lainnya yaitu membuka toko online "Men's Republic".
Bangkit bangkrut
Naik kelas dari sebelumnya cuma berjualan produk milik orang lain. Kini,
seorang Yasa Singgih adalah salah satu pengusaha online sukses bersama
Men's Republic. Mengambil pasar anak muda -pria pada khususnya. Ini
membawa namanya kian berkibar di berbagai media masa. Dulu ketika
berjualan kaos tanah abang yang ia miliki cuma BlackBerry sebagai modal.
Usahanya kala itu masih bermodal hutang tapi lama- lama bisa jadi
modal.
Sebelumnya cuma ambil di Tanah Abang kini punya merek sendiri. Di tahun
2012, ia menjajal berbisnis cafe, membuka sebuah tempat nongkrong keci
bernama Ini Teh Kopi. Di awalnya cukup berjalan apik hingga bisa membuka
cabang. Usaha pertamanya terletak di kawasan Kebun Jeruk, selang enam
bulan, Yasa membuka cabang di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Semangat
tinggi tak dibarengi perhitungan matang. Usahanya berkembang terlalu
cepat tapi hasilnya minus.
Bahkan uang dari bisnis kaos Men's Republic terbawa- bawa. Usahanya
resmi ditutup, kedua cafe -nya itu ditutup dan juga habis modal tanpa
sisa. Bangkrut Yasa Singgih bahkan ikut menghentikan bisnis kaosnya.
Dihitung- hitung Yasa merugi sampai 100 juta ketika dirinya masih di
bangku SMA. Disaat bersamaan, sekolah tengah mempersiapkan ujian
nasional, begitu pula dirinya yang sudah kelas 3 SMA. Makanya urusan
rugi atau membuka bisnis kaos kembali dihentikan dulu.
Untuk waktu itu semua urusan bisnis dihentikan sementara waktu.
"Karena tak punya modal lagi untuk membeli barang dan ada UN, jadi saya
fokus untuk urusan sekolah saja. Usaha baju saya hentikan sementara,"
terangnya kepada awak media.
Selepas UN, tepatnya di 2013, fokus Yasa ada pada bisnis aneka produk
buat pria. Ya, Men's Republic itu masih berdiri dan belum dijajah rasa
kapok, baginya kehilangan uang 100 juta tak membuatnya kapok dan
berhenti berbisnis kembali. Yasa bermodal nama mulai membangun bisnis
tanpa modal. Kali ini, ia bertemu dengan satu pabrik yang memberinya 250
pasang sepatu. Itu diberikan untuk dijualkan dengan tenggat waktu
selama dua bulan.
Kepepet membuat Yasa berpikir serius bagaimana agar semuanya terjual.
Dijualnya sepatu itu bermodal brand atau mereknya. Menggunakan survei
sebagai landasa, kali ini, Yasa tak mau bangkrut kembali seperti yang
dulu- dulu. Dia mendapati pembeli rata- rata Men's Republic adalah umur
15 tahun- 25 tahun. Untuk itu pula ia menyesuaikan harga produknya tak
lebih dari Rp.500.000. Selain menjual sepatu ada pula produk lain seperi
jaket, sandal, bahkan pakaian dan celana dalam.
Kisaran harga dipatoknya ada pada angka Rp.195.000- Rp.390.000 per-
itam. Fokus Yasa cukup agar itu bisa terjual melalui aneka branding
lewat online. Total ada enam pabrik bekerja sama dengannya di kawasan
Bandung. Uniknya pabrik tempatnya bekerja sama tak cuma membangun
mereknya. Mereka juga bekerja sama dengan produk bermerek lain seperti
Yongki Komaladi dan Fladeo. Ia sendiri mencontoh para pemilik merek
tersebut.
"Merek-merek itu tak punya pabrik sama sekali, tapi penjualannya luar
biasa, kan? Saya mau terapkan hal yang sama pada usaha saya," kata dia.
Kini, perlu kamu ketahui, produk Men's Republic telah menjual 500 buah
pasang sepatu per- bulan. Tanpa ada pabrik Yasa mampu menghasilkan mozet
ratusan juta rupiah. Soal laba bersih, tenang, dia sanggup untuk
menghasilkan 40% dari sana. Tak puas pada produknya sekarang, masih ada
pemikiran dibenaknya untuk menjual produk ikat pinggang, dan celana.
Yang paling pasti adalah ia akan terus mematangkan konsep bisnis sambil
berjalan.
Yasa juga sering dipanggil mengisi seminar atau memberikan training.
Melalui Twitter, ia rajin menyemangati para pengusaha muda agar selalu
semangat. Prinsipnya satu yaitu "Never too Young to Become Billionaire"
atau tidak ada kata terlalu muda untuk menjadi seorang miliarder.
Berikut beberapa Twitternya yang mampu memotivasi banya orang
(@YasaSinggih):
Never too young to become a billionaire
1. Adrenalin berbisnis lebih kencang daripada jatuh cinta
2. Selalu merasa bodoh terhadap ilmu, ga pernah berhenti belajar
3. Walaupun sekarang kita belum kaya, tapi kita harus mulai praktekkin "habbit" nya orang2 kaya.
4. Coba deh, ambil satu keputusan untuk ngelakuin habbit nya orang kaya. Mungkin keputusan kecil, tp bisa berdampak besar
5. Rutin beli majalah/tabloid bisnis, walaupun ga suka baca.. Paksain aja! Baca kisah2 jatuh bangun pebisnis.
6. Terjun di organisasi & bisnis, memaksa saya untuk memiliki pola pikir diatas rata2 usia saya sendiri.
7. Di usia 17thn byk remaja dpt undangan sweet17an. Tp saya udah dpt undangan kawinan, gegara maen sama yg lebih gede terus.
8. Orang2 bilang saya kecepetan tua, tapi saya bilang ini percepatan menuju keberhasilan.
9. Dulu pas umur 15 tahun demi nyari duit rela2in ngeMC di Mall, ngaku2 umur 18 tahun biar keterima.
10. Menjelang malem, mau ngebakar temen2 dulu ah.. Kita cerita2 tentang awal mula bisa usaha ya.
"Men's Republic" adalah bisnis ketiganya yang berfokus pada penjualan
secara online. Dia menjual produk yang dikhususkan untuk pria. Dia
menjual baik produk miliknya sendiri atau produk milik orang lain. Ia
juga berencana membangun "Bilionary Versity, yaitu sekolah bisnis non-
formal untuk para pengusaha muda. Dia berbisnis dengan kepercayaan bahwa
usia muda haruslah dimanfaatkan baik- baik.